Juri Pengadilan Federal Distrik Selatan New York (SDNY) resmi memvonis bersalah Jonathan Spalletta (36 tahun) atas tindak pidana penipuan komputer dan pencucian uang terkait pembobolan bursa kripto terdesentralisasi (DEX) Uranium Finance senilai lebih dari $50 juta pada April 2021. Pria asal Rockville, Maryland tersebut dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan setelah menjalani persidangan intensif selama enam hari di hadapan Hakim Distrik AS Jed S. Rakoff. Spalletta kini menghadapi ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun untuk dakwaan penipuan komputer serta 20 tahun penjara untuk kasus pencucian uang, menjadikannya salah satu preseden hukum terpenting bagi penegakan hukum eksploitasi protokol Decentralized Finance (DeFi) di Amerika Serikat.
Kronologi Eksploitasi Smart Contract dan Modus Bug Bounty Palsu
Berdasarkan fakta persidangan yang diungkap tim jaksa federal, aksi peretasan Spalletta terjadi dalam dua gelombang terpisah pada April 2021. Serangan pertama dilancarkan pada 8 April 2021, di mana terdakwa mengeksploitasi celah logika pada smart contract Uranium Finance untuk menarik hadiah (rewards) likuiditas secara berulang kali melebihi hak yang ditentukan, membawa kabur aset kripto senilai $1,4 juta.
Alih-alih melarikan diri, Spalletta justru memeras tim pengembang Uranium Finance dengan dalih imbalan perburuan celah keamanan (bug bounty). Ia menuntut untuk menyimpan dana sekitar $386.000 sebagai tebusan sepihak sebelum mengembalikan sisa dana lainnya. Hanya berselang dua pekan setelah insiden pertama, tepatnya pada 28 April 2021, Spalletta kembali melancarkan eksploitasi yang jauh lebih fatal dengan memanfaatkan galat kalkulasi penarikan dana pada beberapa liquidity pool Uranium Finance. Serangan kedua ini sukses menguras aset sebesar $53,3 juta hingga memaksa bursa terdesentralisasi tersebut menghentikan operasionalnya secara permanen akibat kehabisan cadangan dana.
Pencucian Uang Lewat Tornado Cash dan Pembelian Artefak Langka
Setelah menguras puluhan juta dolar dari protokol, Spalletta mencuci dana curian melalui serangkaian transaksi berlapis, termasuk menggunakan protokol mixer transaksi Tornado Cash guna mengaburkan jejak on-chain. Dana hasil peretasan tersebut kemudian dialihkan menjadi uang tunai untuk membeli berbagai barang koleksi bernilai fantastis, mulai dari kartu permainan langka hingga artefak sejarah bersejarah dunia.
Catatan transaksi federal menunjukkan Spalletta membelanjakan sekitar $1,5 juta untuk membeli 18 kemasan segel (sealed packs) kartu Alpha Booster Magic: The Gathering serta $500.000 untuk sebuah kartu legendaris Black Lotus. Terdakwa juga menggelontorkan dana $750.000 untuk set lengkap edisi pertama kartu Pokémon dan $257.500 untuk kotak booster edisi pertama. Selain kartu koleksi, Spalletta membeli koin perak Romawi kuno Eid Mar denarius yang memperingati peristiwa pembunuhan Julius Caesar seharga $601.545, serta serpihan kain pesawat asli Wright bersaudara yang pernah dibawa astronaut Neil Armstrong ke bulan seharga $137.500. Sebagian besar artefak langka tersebut berhasil disita aparat penegak hukum dari kediaman terdakwa, bersamaan dengan penyitaan aset kripto senilai $31 juta pada Februari 2025.
Vonis Pengadilan Distrik AS dan Preseden Penegakan Hukum DeFi
Jaksa Amerika Serikat Jamie McDonald menegaskan bahwa vonis bersalah ini membuktikan kejahatan di ruang siber memiliki konsekuensi pidana nyata di dunia nyata. Tindakan terdakwa dinilai tidak hanya merugikan pengguna ritel yang kehilangan jutaan dolar dana tabungan mereka, tetapi juga secara langsung menghancurkan seluruh ekosistem platform yang menjadi korban serangan.
Vonis ini juga mengirimkan pesan peringatan tegas bagi peretas protokol DeFi yang kerap berdalih bahwa kode adalah hukum (code is law) atau mengklaim eksploitasi smart contract sebagai perburuan bug legal. Kantor Kejaksaan SDNY bersama divisi investigasi Homeland Security Investigations (HSI) memastikan penegakan hukum terhadap pelaku peretasan on-chain akan terus berlanjut hingga seluruh dana kerugian korban dapat dipulihkan dan dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.
Sumber: Decrypt



