Dana kelolaan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih (net outflow) harian sebesar $484,9 juta pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat. Penarikan modal besar-besaran ini menandai gelombang arus keluar terburuk sejak 25 Juni dan menghapus sekitar 81% dari akumulasi arus masuk yang telah dihimpun institusi selama sembilan hari bursa sebelumnya. Tren pembalikan likuiditas terjadi di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan lonjakan harga energi global yang menekan aset berisiko tinggi. Tekanan jual institusional ini memicu volatilitas tajam di pasar kripto global, menyeret harga Bitcoin ke bawah level $82.000 dan memicu likuidasi ratusan juta dolar di pasar derivatif.
Arus Keluar BlackRock IBIT dan Fidelity Dominasi Penarikan Modal
Berdasarkan data pelacak ETF Decrypt, BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) memimpin penarikan dana terbesar dengan arus keluar harian mencapai $207,7 juta. Posisi kedua disusul oleh Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) yang membukukan penarikan modal senilai $105,1 juta dalam sesi perdagangan yang sama. Penjualan agresif oleh investor institusi dalam satu sesi ini melenyapkan akumulasi modal senilai lebih dari dua pekan pembelian terstruktur yang sebelumnya menopang optimisme awal Oktober.
Kendati mengalami tekanan penarikan harian terparah dalam empat bulan terakhir, seluruh produk ETF Bitcoin spot di bursa AS secara kumulatif masih mempertahankan total arus masuk bersih sebesar $57,8 miliar sejak debut perdana Januari lalu. Para pengelola dana menegaskan bahwa penarikan modal ini mencerminkan aksi lindung nilai portofolio dan penyesuaian alokasi makro jangka pendek oleh manajer investasi Wall Street, bukan kepanikan penarikan dana massal secara sistemik.
Lonjakan Yield US Treasury 5,7% dan Minyak Brent Picu Aksi Jual
Pelemahan tajam arus modal ETF Bitcoin dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi eksternal di luar fundamental sektor kripto. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 30 tahun (US 30-Year Treasury Yield) melesat hingga menyentuh kisaran 5,7% pada Rabu, level yield tertinggi sejak tahun 2002. Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak mendekati angka $100 per barel akibat eskalasi serangan kapal kargo di sekitar Selat Hormuz yang terus memanas sejak awal Oktober.
Kenaikan harga minyak secara langsung memicu kekhawatiran rebound inflasi global, yang mendorong bank sentral Federal Reserve bersikap lebih agresif (hawkish). Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) edisi September mengonfirmasi mayoritas pejabat The Fed masih mempertimbangkan potensi satu kali kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun. Tingginya imbal hasil obligasi bebas risiko membuat instrumen tanpa imbal hasil dividen seperti Bitcoin menghadapi disinsentif modal yang signifikan di mata investor institusi.
Likuidasi Derivatif Tembus $429 Juta dan Dampak Terhadap Uptober
Dampak penarikan dana institusional merembet cepat ke pasar derivatif kripto global. Data likuidasi CoinGlass mencatat posisi leverage senilai $429 juta terlikuidasi dalam kurun 24 jam terakhir, dengan 87,5% di antaranya menimpa kontrak posisi beli (long bets). Di pasar spot, Bitcoin sempat anjlok menyentuh titik terendah harian di $81.749, turun sekitar 6% dari level puncak mingguan di $86.978 yang sempat tercapai beberapa hari sebelumnya.
Pembalikan arah pasar ini menjadi pukulan telak bagi narasi musiman 'Uptober' yang secara historis kerap menghasilkan reli positif bagi aset kripto. Sepanjang empat sesi pembuka bulan Oktober, ETF Bitcoin sempat mengumpulkan arus masuk sebesar $321,6 juta, namun arus keluar terbaru kini membalikkan neraca bulanan menjadi defisit bersih $163,3 juta. Pelaku pasar kini mencermati agenda rapat moneter The Fed berikutnya pada 27-28 Oktober dan 8-9 Desember untuk mengukur arah likuiditas global di kuartal penutup tahun 2026.
Sumber: Decrypt



