Bursa aset kripto terkemuka asal India, CoinDCX, secara terbuka membantah adanya insiden peretasan sistem baru setelah para analis keamanan mendeteksi transaksi mencurigakan senilai $15,99 juta (sekitar Rp260 miliar) dari alamat dompet yang terkait dengan platform tersebut pada Kamis (22/10/2026). Manajemen bursa berdalih bahwa transaksi perpindahan dana skala besar itu berasal dari klaster dompet lama buatan Januari 2025 yang telah disusupi peretas sejak Juli 2025 dan diklaim tidak lagi digunakan dalam operasional bursa. Namun, penjelasan sepihak tersebut langsung dimentahkan oleh penyelidik on-chain independen terkemuka ZachXBT yang membeberkan bukti kuat bahwa dompet penampung deposit tersebut masih aktif beroperasi dan terus berinteraksi dengan hot wallet resmi CoinDCX hingga tahun 2026.
Kronologi Aliran $16 Juta dan Klaim Dompet Lama CoinDCX
Eskalasi kekhawatiran publik bermula ketika Darcy, pendiri bersama platform pemulihan aset digital FlashRescue, mendeteksi perpindahan dana abnormal sekitar $16 juta berupa stablecoin Tether (USDT) di jaringan blockchain Tron. Seluruh dana tersebut dialirkan keluar dari sejumlah alamat yang secara on-chain terlabeli sebagai milik CoinDCX, memicu spekulasi liar di kalangan komunitas kripto bahwa bursa aset digital terbesar di India tersebut kembali mengalami kebocoran kunci privat atau eksploitasi infrastruktur internal.
Merespons temuan transaksi mencurigakan tersebut, pihak CoinDCX segera merilis pernyataan resmi melalui media sosial X untuk menenangkan kepanikan para pengguna. Manajemen menegaskan bahwa transaksi yang disorot publik berasal dari alamat dompet lama yang sebelumnya telah disusupi pada insiden siber Juli 2025. Pada insiden tahun lalu itu, CoinDCX kehilangan dana sekitar $44 juta, di mana manajemen saat itu berjanji menutupi seluruh kerugian menggunakan cadangan kas perbendaharaan perusahaan serta mengklaim telah mengisolasi penuh seluruh alamat yang terdampak dari sistem operasional aktif bursa.
Temuan On-Chain ZachXBT dan Bukti Cadangan Proof of Reserves
Klaim CoinDCX bahwa dompet tersebut telah ditinggalkan sepenuhnya langsung dibantah keras oleh detektif on-chain ZachXBT. Melalui penelusuran buku besar terdesentralisasi, ZachXBT membeberkan bukti historis bahwa alamat deposit yang diklaim 'ditinggalkan' tersebut nyatanya tetap digunakan secara aktif oleh penyedia likuiditas (liquidity provider) bursa selama sepuluh bulan penuh pasca-insiden peretasan Juli 2025. Alamat tersebut terbukti terus menerima setoran dana pengguna, secara berkala mentransfer saldo deposit ke hot wallet publik CoinDCX yang sedang aktif, dan rutin menerima kiriman gas fee untuk mendanai eksekusi transaksi.
Kredibilitas laporan cadangan bursa kian disorot tajam setelah Darcy dari FlashRescue mengungkap temuan lanjutan yang menunjukkan bahwa dua alamat resmi yang tercantum dalam laporan transparansi Proof of Reserves (PoR) terbaru CoinDCX terbukti melakukan transfer aset secara langsung ke alamat Tron yang bermasalah tersebut. Temuan percampuran dana cadangan bursa dengan alamat yang terkontaminasi insiden siber masa lalu memicu pertanyaan mendasar terkait standar tata kelola kepatuhan dompet dan segregasi aset operasional pada platform pertukaran aset digital tersebut.
Respon Manajemen dan Dampak Kepercayaan Bursa di India
Menghadapi paparan data forensik on-chain yang tak terbantahkan dari komunitas keamanan Web3, Chief Executive Officer (CEO) CoinDCX Sumit Gupta akhirnya angkat bicara secara langsung di hadapan publik. Gupta mengakui eksistensi anomali aktivitas dompet tersebut dan menyatakan bahwa tim teknis internal bursa saat ini tengah menggelar investigasi komprehensif mendalam untuk melacak alur interaksi alamat lama tersebut, sembari memberikan jaminan tegas bahwa tidak ada dana pengguna yang hilang atau terancam berkurang sepeser pun akibat insiden transfer tersebut.
Peristiwa ini menjadi ujian reputasi serius bagi industri aset digital di Asia Selatan, khususnya di India di mana CoinDCX menguasai pangsa pasar jutaan investor ritel dan institusi domestik. Mengingat bursa pernah menguras cadangan perbendaharaan hingga $44 juta untuk menalangi peretasan tahun 2025, kelemahan tata kelola pengarsipan dompet kompromi ini berpotensi memicu pengawasan ekstra ketat dari Financial Intelligence Unit (FIU) India terkait kewajiban audit kustodi aset dan transparansi pelaporan operasional hot wallet.
Sumber: CoinTelegraph



