Bursa kripto dan kustodian terbesar di Amerika Serikat, Coinbase, resmi merilis kerangka kerja serta prioritas teknis transisi pasca-kuantum (*post-quantum migration*) untuk jaringan Bitcoin pada Rabu (14/10/2026). Langkah strategis ini ditempuh guna mengantisipasi ancaman komputasi kuantum berdaya tinggi sebelum mesin pemecah enkripsi kriptografi kurva eliptik (*elliptic curve cryptography*) benar-benar tercipta. Mengingat Coinbase mengelola sekitar 5% dari total suplai Bitcoin yang beredar—atau setara lebih dari 1 juta BTC senilai $83 miliar—perusahaan mendesak komunitas pengembang global untuk segera memulai persiapan peningkatan skema tanda tangan digital dan mekanisme migrasi saldo guna mencegah pencurian aset berskala masif.
Evaluasi Skema Skrip P2MR BIP 360 dan P2TRv2 untuk Fleksibilitas Jaringan
Dalam dokumen teknisnya, Coinbase menekankan bahwa perlindungan Bitcoin dari ancaman kuantum membutuhkan lebih dari sekadar memilih algoritma enkripsi baru. Tim riset Coinbase mengusulkan pendekatan berbasis desain fleksibel yang dapat mengadopsi berbagai sistem tanda tangan tahan kuantum secara bertahap tanpa perlu merombak ulang seluruh fondasi konsensus protokol. Dua proposal utama yang disorot adalah *Pay-to-Merkle-Root* (P2MR) yang tercantum dalam *Bitcoin Improvement Proposal* (BIP) 360 serta *Pay-to-Taproot version 2* (P2TRv2).
Arsitektur P2MR dan P2TRv2 dinilai menawarkan keunggulan struktural karena mampu menyembunyikan kunci publik (*public key*) dari buku besar transaksi hingga saat dana tersebut benar-benar dibelanjakan. Penyembunyian kunci publik ini sangat krusial karena algoritma kuantum seperti Algoritma Shor mengeksploitasi kunci publik yang terekspos untuk merekonstruksi kunci privat (*private key*). Selain itu, format skrip ini memungkinkan penambahan algoritma tanda tangan baru di masa depan dengan format alamat (*address format*) yang mudah diintegrasikan oleh penyedia dompet (*wallet*), bursa pertukaran, dan gateway pembayaran ritel.
Analisis Algoritma Tanda Tangan NIST dan Batasan Komputasi Node
Coinbase secara khusus mendorong evaluasi komparatif yang disesuaikan dengan batasan operasional jaringan Bitcoin terhadap kandidat standar Institut Standar dan Teknologi Nasional AS (NIST), meliputi ML-DSA (CRYSTALS-Dilithium), SLH-DSA (SPHINCS+), dan FN-DSA (FALCON). Perusahaan juga menyoroti potensi kandidat tanda tangan berbasis hash ringkas seperti SHRINCS yang menggabungkan efisiensi ukuran bukti dengan keandalan verifikasi tanpa memerlukan pelacakan riwayat transaksi yang rumit.
Kendala teknis utama terletak pada ukuran tanda tangan (*signature size*) dan beban verifikasi komputasi pada node independen. Coinbase memperingatkan bahaya skema *stateful signatures* yang mewajibkan penandatangan mencatat status penandatanganan sebelumnya, karena kegagalan pencatatan atau pemulihan cadangan (*backup*) lama dapat membuka celah pemalsuan tanda tangan. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan kustodi institusional, algoritma terpilih wajib kompatibel dengan teknologi *multi-party computation* (MPC) guna mencegah pemusatan wewenang kunci privat pada satu titik kegagalan (*single point of failure*).
Manajemen Coinbase menegaskan pentingnya memisahkan perdebatan teknis dari isu sosial koin terbengkalai. "Beberapa pertanyaan pelik, termasuk bagaimana menangani koin yang ditinggalkan atau tidak dapat diakses lagi oleh pemiliknya, memang membutuhkan perdebatan yang matang. Namun, dalam pandangan kami, diskusi tersebut dapat berjalan beriringan dengan pekerjaan teknis untuk menyematkan dukungan tanda tangan pasca-kuantum ke dalam protokol Bitcoin," tulis pimpinan teknis Coinbase dalam publikasi resminya.
Mekanisme Jalur Belanja Ganda dan Nasib Koin Dorman Bitcoin
Sebagai solusi transisi praktis, Coinbase mengusulkan mekanisme jalur pembelanjaan ganda (*dual-spending route*). Di bawah skema ini, sebuah transaksi aset dapat memiliki dua rute otorisasi alternatif: rute konvensional (ECDSA/Schnorr) dan rute tahan kuantum. Model ini memberikan waktu bagi pengguna aktif untuk memigrasikan saldo mereka tanpa paksaan mendadak, sebelum aturan konsensus secara bertahap membatasi atau menghentikan validitas tanda tangan kriptografi lama.
Isu paling sensitif yang dihadapi ekosistem adalah nasib jutaan koin dorman dan kunci publik yang telah terekspos secara permanen di masa awal peluncuran Bitcoin, termasuk cadangan era Satoshi Nakamoto. Coinbase menguraikan opsi pembatasan, pembekuan terencana, hingga mekanisme penyelamatan dana (*fund rescue*) yang harus dirancang agar kebal dari eksploitasi pihak jahat. Dengan keterlibatan aktif Coinbase dalam *Bitcoin Security Consortium*, inisiatif ini menandai pergeseran krusial dari wacana teoretis menuju kesiapan teknis nyata menghadapi era komputasi pasca-kuantum.
Sumber: The Block



