Defi

Circle Bidik 40 Pasar Berkembang, Transaksi USDC Salip USDT

Circle Bidik 40 Pasar Berkembang, Transaksi USDC Salip USDT

Key Takeaways

Circle berencana ekspansi ke 40 pasar berkembang saat transaksi USDC melampaui USDT hingga 60%. Simak strategi Jeremy Allaire dan dampaknya bagi pasar kripto.

Penerbit stablecoin global Circle Internet Financial bersiap memperluas jangkauan operasionalnya ke sekitar 40 pasar berkembang di kawasan Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, hingga Timur Tengah. Rencana ekspansi besar-besaran ini diumumkan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) dan Chairman Circle, Jeremy Allaire, di sela-sela pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok. Langkah strategis ini diambil di tengah pergeseran struktural adopsi aset digital, di mana stablecoin mulai beralih dari instrumen spekulasi menjadi infrastruktur pembayaran lintas negara dan penyelesaian transaksi komersial skala global.

Strategi Jeremy Allaire di 40 Negara Berkembang dan Transisi Web3 Global

Dalam wawancaranya bersama Reuters di Bangkok, Jeremy Allaire menegaskan bahwa industri aset digital saat ini sedang berada di titik balik krusial. Menurutnya, teknologi blockchain kini telah resmi melangkah keluar dari fase adopsi awal (early adopter) dan memasuki fase ekspansi arus utama (mainstream scaling). Kebutuhan terhadap dolar digital di pasar berkembang didorong oleh tingginya permintaan pelaku usaha lokal serta individu yang ingin terhubung langsung dengan sistem ekonomi berbasis internet secara efisien dan berbiaya rendah.

Allaire menjelaskan bahwa volatilitas mata uang lokal, tingginya inflasi, serta mahalnya biaya remitansi perbankan konvensional di negara berkembang menjadi katalis utama tingginya permintaan terhadap USDC. Dengan mempermudah akses on-ramp dan integrasi pembayaran langsung ke ekosistem keuangan lokal di 40 yurisdiksi baru tersebut, Circle memproyeksikan USDC dapat menjadi jembatan likuiditas global yang stabil dan patuh terhadap regulasi internasional.

Keseriusan Circle dalam menembus pasar berkembang juga dibuktikan lewat aksi korporasi strategis sebelumnya. Pada September lalu, Circle menyepakati akuisisi platform pembayaran lintas negara asal Singapura, Tazapay, dengan kesepakatan saham penuh senilai $400 juta yang dijadwalkan rampung pada 2027. Akuisisi ini diharapkan memperkuat infrastruktur gerbang pembayaran USDC di seluruh koridor perdagangan Asia Pasifik.

Data Riset Bernstein: Volume Transaksi USDC Melampaui 60% Pangsa Pasar

Pertumbuhan fundamental Circle juga tercermin nyata dalam laporan riset terbaru yang dirilis firma pialang investasi global Bernstein. Meskipun Tether (USDT) masih memimpin dari sisi total kapitalisasi pasar, perputaran transaksi nyata USDC mencatat lonjakan eksponensial. Laporan Bernstein mengungkapkan bahwa pangsa volume transaksi stablecoin yang disesuaikan (adjusted transaction volume) milik USDC melonjak drastis dari kisaran 40% pada tahun 2025 menjadi lebih dari 60% sepanjang tahun 2026 berjalan.

Lonjakan pangsa volume ini menandai tonggak sejarah penting di mana USDC untuk pertama kalinya sukses menyalip volume transaksi ekonomi riil USDT. Analis Bernstein menilai bahwa keunggulan ini didorong oleh persepsi kepatuhan regulasi yang lebih transparan, integrasi mendalam pada pasar modal tertokenisasi (tokenized capital markets), serta pelaporan cadangan aset yang diaudit secara ketat di yurisdiksi Amerika Serikat.

Selain itu, laporan keuangan paruh pertama (H1) 2026 menunjukkan komitmen Circle dalam memperluas ekosistem mitra komersialnya, di mana perusahaan mengalokasikan sekitar $819 juta untuk bagi hasil mitra dan biaya operasional ekspansi. Alokasi ini memperlihatkan model bisnis yang berkelanjutan dalam menarik kemitraan perbankan serta institusi fintech papan atas di berbagai belahan dunia.

Integrasi Agen AI dan Implikasi Likuiditas Stablecoin bagi Pasar Kripto

Analis Bernstein juga menyoroti katalis inovatif baru yang mulai menggerakkan volume transaksi stablecoin, yaitu adopsi sistem pembayaran otonom oleh agen kecerdasan buatan (autonomous AI agents). Dalam ekosistem komputasi terdesentralisasi, agen AI memerlukan media pertukaran nilai digital yang tanpa friksi, berkecepatan tinggi, dan dapat diverifikasi langsung di atas blockchain. USDC dinilai menjadi pilihan utama bagi para pengembang protokol AI karena kepastian regulasi dan ketersediaan smart contract yang matang.

Masuknya USDC ke 40 negara berkembang diperkirakan akan memperketat persaingan likuiditas stablecoin global dengan kompetitor seperti USDT dan stablecoin institusional yang mulai digarap perbankan Wall Street. Bagi industri kripto secara keseluruhan, arus modal legal yang masuk melalui gerbang stablecoin berlisensi diyakini akan memperluas kedalaman likuiditas pasar, mempercepat adopsi Web3 di sektor riil, serta mengurangi friksi konversi valuta asing di kawasan berkembang secara signifikan.

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar