Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi Amerika Serikat (CFTC) secara resmi mendesak pengadilan federal untuk menolak gugatan hukum yang diajukan oleh operator bursa derivatif terbesar dunia, CME Group. Gugatan tersebut berfokus pada penolakan kebijakan baru regulator federal yang mengizinkan perdagangan kontrak perpetual futures kripto di pasar domestik AS. Dalam berkas pembelaan hukum terbarunya, CFTC menegaskan bahwa CME Group sama sekali tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) karena gagal membuktikan adanya kerugian finansial langsung maupun ancaman kompetisi nyata akibat pembukaan izin instrumen derivatif tersebut.
CFTC Tuding CME Group Gagal Buktikan Kerugian Nyata
Dalam dokumen gugatan balasan yang didaftarkan di pengadilan federal, CFTC menyoroti bahwa CME Group hanya mengajukan klaim persaingan usaha yang meningkat tanpa menyertakan bukti kuat mengenai kerugian finansial yang akan segera terjadi. Regulator menegaskan bahwa tuduhan semata mengenai potensi persaingan tidak cukup memberikan dasar hukum bagi CME untuk membatalkan kebijakan federal. Bahkan, data transaksi resmi menunjukkan bahwa volume perdagangan kontrak berjangka kripto konvensional di bursa CME justru mencatatkan pertumbuhan signifikan sejak CFTC melonggarkan izin perdagangan instrumen perpetual.
Regulator juga mengungkap kontradiksi terbuka dalam argumen manajemen CME Group antara fakta di ruang sidang dan pernyataan resmi kepada publik. Dalam berkas hukumnya, CFTC mencatat bahwa eksekutif CME secara konsisten menyatakan kepada para pemegang saham dalam panggilan laba (earnings calls) bahwa mereka tidak melihat adanya lonjakan permintaan klien terhadap kontrak perpetual, serta mengklaim bahwa produk perpetual bukanlah substitusi langsung bagi kontrak berjangka tradisional yang mereka tawarkan. Regulator menegaskan bahwa CME tidak dapat bersikap mendua dengan menuntut pembatalan di pengadilan atas dasar ancaman persaingan, sementara meyakinkan para investor publik bahwa bisnis mereka tetap aman dari dampak instrumen baru tersebut.
Sengketa Definisi Kontrak Berjangka Versus Swaps
Akar perselisihan hukum antara kedua raksasa pasar derivatif ini bermula sejak Mei 2026, ketika CFTC secara mengejutkan membuka pintu bagi perdagangan kontrak berjangka abadi di bursa AS dengan memberikan persetujuan perdana bagi instrumen bitcoin perp milik platform Kalshi. Langkah agresif ini merupakan bagian dari realisasi agenda pro-kripto pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memulangkan likuiditas derivatif digital yang selama ini terkonsentrasi di bursa luar negeri (offshore). CFTC memutuskan untuk mengatur produk perpetual secara kasus per kasus di bawah kategori kontrak berjangka komoditas (futures).
Sebaliknya, CME Group bersikeras membawa perkara ini ke jalur hukum karena menilai instrumen perpetual tidak memiliki tanggal kedaluwarsa tetap (expiration date), sehingga secara fundamental tidak dapat diklasifikasikan sebagai kontrak berjangka. CME berpendapat bahwa kontrak abadi tersebut secara hukum merupakan instrumen swaps yang wajib tunduk pada kerangka regulasi Dodd-Frank yang jauh lebih ketat dan rumit. Perbedaan klasifikasi hukum ini memiliki implikasi besar terhadap beban kepatuhan, modal cadangan minimum, serta fleksibilitas operasional bagi bursa konvensional yang ingin mempertahankan dominasi pangsa pasar derivatif berjangka mereka.
Implikasi Pasar dan Risiko Likuidasi Derivatif Domestik
Pertarungan hukum di pengadilan federal ini diawasi ketat oleh para pelaku industri keuangan Wall Street karena berpotensi menentukan peta masa depan perdagangan derivatif kripto di Amerika Serikat. Analis kebijakan senior dari firma riset TD Cowen, Jaret Seiberg, menilai bahwa dinamika sengketa ini berkejaran dengan laju ekspansi pasar yang bergerak sangat cepat. Seiberg memperingatkan bahwa jika volume perdagangan kontrak perpetual terus membesar di bursa teregulasi AS sementara litigasi masih berjalan, industri akan menghadapi komplikasi hukum yang sangat rumit untuk membubarkan atau menarik kembali pasar tersebut apabila pengadilan akhirnya memenangkan tuntutan CME Group.
Keputusan final majelis hakim atas mosi pembatalan yang diajukan oleh CFTC diperkirakan akan menjadi preseden penting bagi yurisdiksi aset digital di Amerika Serikat. Jika pengadilan mengabulkan pembelaan CFTC dan menolak gugatan CME, bursa domestik lainnya diprediksi akan segera menyusul langkah Kalshi untuk meluncurkan berbagai varian kontrak perpetual kripto berbasis spot. Langkah deregulasi ini diyakini mampu menarik kembali ratusan miliar dolar volume perdagangan derivatif global ke ekosistem keuangan teregulasi di Amerika Serikat.
Sumber: CoinDesk



