Home/Canton Network Bidik Dana US$300 Juta, Valuasi Sentuh US$2 Miliar
Crypto

Canton Network Bidik Dana US$300 Juta, Valuasi Sentuh US$2 Miliar

Canton Network Bidik Dana US$300 Juta, Valuasi Sentuh US$2 Miliar

Key Takeaways

Digital Asset Holdings disebut memburu dana US$300 juta untuk Canton Network, menguatkan sinyal bahwa tokenisasi aset institusional makin serius pada 2026.

Gelombang tokenisasi aset dunia nyata kembali mendapat bahan bakar baru. Digital Asset Holdings, perusahaan di balik Canton Network, dikabarkan tengah mengincar pendanaan segar sebesar US$300 juta dengan valuasi mencapai US$2 miliar. Putaran ini disebut dipimpin a16z crypto dan diperkirakan rampung dalam beberapa pekan ke depan. Kabar tersebut penting karena Canton bukan blockchain publik biasa, melainkan jaringan permissioned yang dirancang khusus untuk kebutuhan lembaga keuangan yang menuntut privasi, kepatuhan, dan interoperabilitas. Di tengah semakin agresifnya Wall Street mengeksplorasi aset onchain, pendanaan baru untuk pemain infrastruktur seperti Canton mengirim pesan jelas: narasi blockchain institusional belum melambat, justru masuk fase yang lebih matang. Fokus pasar mulai bergeser dari eksperimen ke kesiapan produksi dalam skala besar.

Latar belakangnya sudah terbentuk sejak beberapa bulan terakhir. Kurang dari setahun lalu, Digital Asset mengumumkan pendanaan strategis US$135 juta yang dipimpin DRW Venture Capital dan Tradeweb Markets untuk mempercepat adopsi Canton Network. Pada Desember, perusahaan ini bersama Canton Network dan Depository Trust & Clearing Corporation atau DTCC mengumumkan kolaborasi untuk memungkinkan tokenisasi aset yang berada dalam kustodi DTCC. Ini bukan langkah kecil, mengingat DTCC mengelola aset likuid bernilai sekitar US$114 triliun. Pekan lalu, DTCC bahkan mengumumkan rencana uji coba perdagangan versi tokenisasi dari sebagian aset tersebut mulai Juli, dengan target peluncuran layanan penuh pada Oktober. Jadi, kabar penggalangan dana baru ini datang ketika jalur komersialisasi tokenisasi sudah mulai tampak lebih konkret. Dalam lingkungan seperti itu, modal ventura cenderung masuk bukan hanya untuk mengejar narasi, tetapi untuk mengamankan posisi di infrastruktur inti.

Secara faktual, Canton Network memang terus memperluas jejak institusionalnya. Moody’s pada Maret membawa data peringkat kreditnya ke jaringan tersebut agar dapat dipakai langsung dalam workflow keuangan berbasis blockchain, menjadikannya agensi rating pertama yang mempublikasikan analisis kreditnya secara onchain. Pada April, Japan Securities Clearing Corporation mengumumkan pengujian obligasi pemerintah Jepang di jaringan Canton untuk melihat apakah kepemilikan obligasi bisa dipindahkan onchain dan dipakai sebagai jaminan digital. Awal bulan ini, bank kripto Swiss Amina juga mengumumkan dukungan kustodi dan perdagangan untuk Canton Coin, token utilitas jaringan itu. Meski ada kritik dari sebagian komunitas kripto soal tingkat desentralisasinya, fakta lapangan menunjukkan lembaga keuangan besar justru tertarik pada model blockchain yang mengutamakan kontrol, privasi, dan kepatuhan. Ini menjelaskan mengapa valuasi perusahaan infrastruktur bisa terus naik walau pasar token ritel belum tentu sedang euforia.

Bagi investor Indonesia, cerita Canton relevan karena memperlihatkan arah adopsi blockchain yang mungkin berbeda dari euforia ritel. Jika siklus sebelumnya didominasi memecoin, NFT, dan DeFi spekulatif, fase berikutnya bisa lebih banyak ditopang oleh infrastruktur untuk aset riil, sekuritas, dan pasar modal. Itu berarti peluang tidak hanya muncul pada token, tetapi juga pada perusahaan, protokol, dan jaringan yang menjadi rel teknologi bagi institusi. Di sisi lain, investor juga perlu memahami bahwa model permissioned seperti Canton memiliki profil risiko dan valuasi yang berbeda dari blockchain publik. Potensinya besar karena dekat dengan arus uang institusional, tetapi upside tokennya belum tentu seeksplosif proyek ritel. Membaca sektor ini butuh kacamata yang lebih mirip analisis infrastruktur finansial daripada spekulasi altcoin murni. Tema besar yang layak dipantau adalah siapa yang berhasil menjadi “AWS”-nya pasar modal onchain.

Ke depan, keberhasilan Canton Network akan ditentukan oleh seberapa cepat proyek percontohan berubah menjadi penggunaan nyata dengan volume besar. Jika DTCC, Moody’s, JSCC, dan bank-bank teregulasi benar-benar mendorong transaksi onchain secara produksi, maka valuasi US$2 miliar bisa terlihat masuk akal, bahkan konservatif. Namun bila adopsi berjalan lambat, pasar bisa kembali mempertanyakan premium untuk blockchain enterprise. Untuk saat ini, rencana penggalangan dana US$300 juta menunjukkan satu hal: perlombaan membangun rel tokenisasi global sedang memanas, dan Canton ingin berada di barisan terdepan. Di pasar yang makin selektif, itu merupakan sinyal kuat bahwa infrastruktur institusional masih menjadi salah satu cerita paling serius di industri kripto 2026.

Sumber: https://cointelegraph.com/news/company-canton-network-raises-300m-2-billion-valuation

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar