BitMine Immersion Technologies resmi menetapkan batas atas permanen (hard cap) atas akumulasi kepemilikan Ether sebesar maksimal 5% dari total pasokan Ethereum global. Pernyataan strategis tersebut ditegaskan langsung oleh Chairman BitMine, Tom Lee, dalam pidato utamanya di ajang konferensi kripto internasional Token2049 di Singapura pada Rabu (7/10/2026). Langkah ini menandai transisi penting dari fase agresif pengumpulan aset kripto menjadi batas plafon absolut bagi korporasi publik yang tercatat di bursa saham Wall Street Amerika Serikat tersebut. BitMine kini tercatat telah mengakumulasi sekitar 6 juta ETH atau setara 4,9% dari seluruh pasokan beredar Ethereum di pasar, sehingga hanya membutuhkan tambahan sekitar 100.000 ETH untuk menyentuh target batas akhir tersebut dalam waktu dekat.
Transisi Target Menjadi Plafon Permanen Cadangan Ether
Tom Lee menegaskan bahwa penetapan angka 5% bukan lagi sekadar sasaran sementara, melainkan batas maksimal absolut yang tidak akan dilanggar oleh perusahaan di masa depan. Sikap tegas ini sekaligus mengklarifikasi spekulasi pasar sebelumnya yang memperkirakan BitMine berpeluang terus memperbesar dominasi kepemilikan melampaui ambang batas 5% seiring akselerasi laju adopsi institusional Ethereum. Pada Agustus lalu dalam sesi wawancara mendalam bersama media kripto Bankless, Lee sempat membuka peluang meninjau ulang target akumulasi pada 2027, namun keputusan terbaru di Token2049 secara resmi membatalkan wacana ekspansi tanpa batas tersebut.
Lee menjelaskan bahwa mayoritas akumulasi ETH dilakukan perusahaan ketika pasar kripto berada pada fase penurunan (bear market) yang tertekan secara berkepanjangan. Pendekatan kontra-siklus tersebut memungkinkan BitMine menyerap pasokan dalam volume besar pada harga diskon sekaligus menopang valuasi dasar pasar kripto. Dengan tuntasnya fase akumulasi mendekati batas 5%, BitMine memproyeksikan portofolio perusahaan kini berada dalam posisi optimal untuk menuai keuntungan maksimal ketika siklus reli harga aset digital memasuki fase kenaikan eksponensial berikutnya.
Implikasi Strategi Permodalan dan Perlindungan Saham
Keputusan mengunci plafon kepemilikan pada angka 5% berkaitan erat dengan disiplin manajemen modal korporasi BitMine. Dengan menghentikan pembelian langsung ETH di pasar spot setelah mencapai plafon, perusahaan tidak lagi memerlukan aksi korporasi penambahan modal eksternal secara berulang kali, seperti penerbitan surat utang atau saham baru yang kerap berisiko mendilusi nilai kepemilikan pemegang saham publik. Sepanjang tahun 2026, BitMine tercatat sempat meluncurkan penawaran saham preferen perpetual senilai $300 juta untuk membiayai pembelian treasury kripto, sembari menjalankan program pembelian kembali saham (buyback) senilai $4 miliar.
Pemberhentian ekspansi modal agresif ini dirancang untuk menopang valuasi saham BitMine agar mampu mencatatkan kinerja melampaui pergerakan harga dasar ETH itu sendiri (outperform). Investor institusional dinilai tidak perlu lagi mencemaskan tekanan dilusi ekuitas akibat penerbitan instrumen pendanaan baru untuk membiayai akumulasi token tambahan di neraca keuangan.
Mekanisme Staking dan Regulasi Batas Suplai On-Chain
Meskipun BitMine menyetop pembelian ETH langsung dari pasar terbuka setelah target tercapai, operasional staking validator tetap berpotensi menambah kepemilikan token secara organik setiap harinya. Sebelumnya, BitMine memproyeksikan potensi pendapatan staking tahunan hingga mencapai $334 juta dari total treasury kripto bernilai miliaran dolar. Untuk mempertahankan kepemilikan riil tetap berada di bawah plafon 5%, Tom Lee menegaskan BitMine siap menjual imbal hasil reward staking secara berkala ke pasar terbuka demi menjaga rasio suplai.
Strategi likuidasi reward staking terprogram tersebut memastikan persentase kepemilikan BitMine tidak memicu sentimen kekhawatiran sentralisasi pasokan pada konsensus proof-of-stake Ethereum. Batasan 5% ini sekaligus meredakan kekhawatiran komunitas Web3 global mengenai potensi dominasi tunggal entitas korporasi raksasa atas infrastruktur konsensus jaringan dan kekuatan voting validator desentralisasi Ethereum.
Sumber: CoinTelegraph



