Pasar kripto global kembali bergejolak setelah harga Bitcoin (BTC) merosot tajam dari level tertinggi mingguan ke kisaran $82.000 pada perdagangan Senin (28/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh penolakan tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap usulan gencatan senjata tujuh hari dari pihak Iran yang bertujuan meredakan ketegangan militer serta membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Sentimen geopolitik yang memanas tersebut memicu aksi jual serentak pada aset berisiko global, menghentikan momentum reli Bitcoin yang baru saja mencatatkan penutupan mingguan terkuatnya sejak Januari di level $84.450.
Dampak Eskalasi Timur Tengah dan Lonjakan Komoditas
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran langsung mengubah arah sentimen makroekonomi secara drastis dalam hitungan jam. Penolakan kesepakatan damai oleh Donald Trump membuat pasar energi bereaksi agresif, mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis $100 per barel akibat kekhawatiran disrupsi pasokan minyak mentah dunia. Lonjakan harga komoditas ini seketika menyulut kembali ekspektasi inflasi tinggi di pasar keuangan Amerika Serikat.
Dampak langsung dari kenaikan harga energi adalah penguatan indeks dolar AS serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury). Kondisi pengetatan likuiditas tersebut menciptakan tekanan ganda yang merugikan aset-aset tanpa imbal hasil (non-yielding assets) seperti Bitcoin dan emas fisik. Investor institusi maupun ritel yang semula memposisikan portofolio untuk tren bullish jangka panjang terpaksa melakukan aksi ambil untung dan mitigasi risiko menghadapi potensi ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.
Gelombang Likuidasi Derivatif dan Tekanan Pasar Altcoin
Pergerakan harga yang tiba-tiba ini menghantam keras para trader di bursa derivatif kripto. Berdasarkan data agregasi pasar, total likuidasi posisi perdagangan berjangka menembus $478 juta hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Dari jumlah tersebut, posisi long yang terlikuidasi mendominasi dengan angka mencapai $386,5 juta, sementara likuidasi posisi short hanya tercatat sebesar $87,95 juta. Ketimpangan ini mengonfirmasi terjadinya long squeeze masif ketika harga Bitcoin menukik dari level pembukaan $84.455 menuju titik terendah harian di $82.580.
Aksi jual ini juga menyeret seluruh kapitalisasi pasar kripto turun 1,7% menjadi sekitar $2,86 triliun. Pasar altcoin mengalami pelemahan signifikan di mana Solana (SOL) terkoreksi 2,63% ke level $118,49, Hyperliquid (HYPE) anjlok 3,55% ke $88,08, dan BNB terdepresiasi 1,98% ke $762,24. Menariknya, aktivitas perdagangan derivatif tetap sangat tinggi dengan total open interest bertahan di angka $382,29 miliar serta volume perdagangan 24 jam yang melonjak 66,28% menyentuh $838,18 miliar, mencerminkan volatilitas pasar yang masih sangat dinamis.
Struktur Teknikal Bitcoin dan Proyeksi Kebijakan The Fed
Meskipun mengalami koreksi harian sebesar 1,8% atau setara penurunan sekitar $1.523, struktur teknikal Bitcoin pada grafik jangka menengah dinilai masih berada dalam fase konsolidasi sehat pasca-breakout Agustus lalu. Indikator moving average menunjukkan pola golden cross tetap utuh dengan pergerakan garis MA 50 hari yang kokoh berada di atas MA 200 hari. Sementara itu, indikator momentum Relative Strength Index (RSI) berada di level 58,7 yang mencerminkan teritori bullish wajar tanpa indikasi overbought, didukung oleh nilai Average Directional Index (ADX) di level 43,2 yang menandakan kekuatan tren pasar masih cukup solid.
Fokus para pelaku pasar kini beralih ke rilis serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat sepanjang pekan ini, termasuk survei lowongan kerja JOLTS, indeks inflasi Core PCE, serta laporan ketenagakerjaan September. Data ini krusial mengingat Federal Reserve baru saja menaikkan suku bunga acuan ke rentang 3,75% hingga 4% pada pertemuan 16 September lalu. Alat CME FedWatch saat ini memproyeksikan probabilitas sebesar 64% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober 2026 demi mengendalikan laju inflasi.
Sumber: Decrypt, CoinTelegraph



