Home/Bitcoin Terancam Turun ke US$70 Ribu Jelang Inflasi AS
Crypto

Bitcoin Terancam Turun ke US$70 Ribu Jelang Inflasi AS

Bitcoin Terancam Turun ke US$70 Ribu Jelang Inflasi AS

Key Takeaways

Bitcoin menghadapi risiko koreksi ke area US$70 ribu jelang rilis inflasi AS, saat dukungan pembelian institusi dinilai mulai melemah dan teknikal memburuk.

Bitcoin memasuki awal pekan dengan bayang-bayang koreksi lebih dalam menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, setelah sejumlah indikator menunjukkan dukungan pasar yang sebelumnya menopang harga mulai melemah. Analisis terbaru Cointelegraph menyebut BTC berisiko turun menuju area US$70.000 apabila pasar merespons negatif data CPI April dan pola teknikal bearish di grafik harian terkonfirmasi. Kekhawatiran ini muncul ketika inflasi tahunan diperkirakan naik lagi, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed belum juga membaik. Dalam situasi seperti ini, aset berisiko biasanya lebih sensitif terhadap kejutan makro. Bitcoin memang beberapa kali mampu bertahan dari data inflasi panas, tetapi kali ini fondasi dukungannya dinilai tidak sekuat dua rilis CPI sebelumnya. Karena itu, pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan berpotensi menjadi penentu apakah BTC masih punya tenaga untuk menembus resistance baru, atau justru masuk fase koreksi yang lebih dalam.

Latar belakang tekanan ini berasal dari kombinasi faktor makro dan perilaku pasar. Cleveland Fed dalam proyeksi nowcast terbarunya memperkirakan CPI utama April naik menjadi 3,56% secara tahunan dari 3,3% pada Maret. Walau laju bulanan diperkirakan lebih landai, kenaikan tahunan tetap cukup untuk memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS belum punya ruang besar untuk segera memangkas suku bunga. Selama dua rilis CPI sebelumnya, Bitcoin masih bisa menghindari penurunan tajam karena pembeli institusional menyerap pasokan baru dengan agresif. Namun dukungan itu mulai dipertanyakan setelah Strategy menghentikan sementara pembelian BTC dan instrumen preferennya diperdagangkan di bawah nilai pari, yang bisa membatasi kemampuan perusahaan menghimpun dana segar untuk akumulasi baru. Artinya, pasar kini tidak hanya memantau data inflasi, tetapi juga apakah motor pembelian institusional masih aktif ketika volatilitas meningkat.

Dari sisi fakta utama, Cointelegraph mencatat Strategy sebelumnya bersama pembeli institusional lain sempat menyerap lebih dari 500% pasokan Bitcoin yang baru ditambang per hari, sebuah faktor yang membantu menahan koreksi pada periode sebelumnya. Kini, analis Killa menyoroti area US$78.600 sebagai level mingguan penting yang harus dipertahankan. Jika level itu jebol, zona US$74.000 hingga US$75.000 disebut menjadi target penurunan berikutnya. Bahkan, pola rising wedge di grafik harian membuka kemungkinan penurunan yang lebih dalam menuju sekitar US$70.000 bila garis support bawah ditembus dari area mendekati US$84.000. Di sisi lain, skenario bearish ini bisa gugur jika BTC justru mampu menembus titik apex pola sekaligus melampaui garis exponential moving average 200 hari. Jika itu terjadi, target kenaikan berikutnya diperkirakan berada di kisaran US$90.000 sampai US$95.000.

Untuk investor Indonesia, artikel ini penting bukan sebagai sinyal panik, melainkan pengingat bahwa Bitcoin tetap sangat dipengaruhi kombinasi narasi makro dan struktur pasar. Ketika inflasi AS memanas, dampaknya bisa menjalar ke dolar, imbal hasil obligasi, dan selera risiko global, lalu berujung pada volatilitas kripto yang tinggi bahkan di bursa lokal. Jika BTC benar-benar melemah ke area US$70.000, altcoin berpotensi terkena tekanan lebih besar karena biasanya memiliki beta yang lebih tinggi. Namun koreksi semacam ini juga bisa membuka peluang bagi investor jangka panjang yang sudah menyiapkan strategi akumulasi bertahap. Kuncinya adalah disiplin manajemen risiko: memahami level support, tidak memakai leverage berlebihan, dan menyadari bahwa reaksi pasar terhadap data makro sering berlangsung cepat sekaligus emosional. Dalam fase seperti ini, keputusan berbasis skenario jauh lebih penting dibanding mengejar sentimen sesaat.

Prospek jangka pendek Bitcoin kini sangat bergantung pada dua hal: hasil data inflasi resmi AS dan respons pembeli besar setelah data keluar. Bila CPI kembali lebih panas dari harapan tanpa diimbangi masuknya permintaan institusional, tekanan turun bisa membesar. Sebaliknya, jika pasar menilai inflasi masih cukup terkendali dan pembeli besar kembali aktif, narasi koreksi ke US$70.000 dapat cepat memudar. Untuk saat ini, pasar berada di titik sensitif yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi daripada biasanya. Investor sebaiknya memantau kalender makro, reaksi pasar obligasi, dan volume perdagangan Bitcoin sebelum mengambil posisi agresif. Sumber: https://cointelegraph.com/markets/bitcoin-price-may-dip-toward-70k-fed-estimates-hotter-inflation

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar