Harga Bitcoin (BTC) anjlok hingga menembus ke bawah level psikologis $82.000 pada perdagangan Selasa (13/10/2026), memicu gelombang likuidasi berantai di pasar derivatif kripto global. Dalam 24 jam terakhir, akumulasi likuidasi kontrak berjangka melonjak melewati angka $771 juta, dengan posisi beli (long) mendominasi kerugian hingga mencapai $685,6 juta atau sekitar 89% dari seluruh posisi yang terlikuidasi. Koreksi tajam secara tiba-tiba ini dipicu oleh tekanan jual agresif di tengah sentimen makro global yang memburuk serta aksi hindar risiko (risk-off) yang melanda pasar keuangan kawasan Asia.
Likuidasi Long Capai $685 Juta di Tengah Volatilitas Tajam
Data pelacakan pasar derivatif menunjukkan bahwa tekanan jual masif memaksa bursa-bursa kripto utama mengeksekusi penutupan paksa atas ratusan ribu akun trader. Dari total likuidasi senilai $771 juta dalam 24 jam terakhir, sebanyak $685,6 juta berasal dari trader yang bertaruh pada kenaikan harga (long positions). Sebaliknya, likuidasi posisi short hanya mencatatkan sekitar $85,4 juta, menegaskan bahwa penurunan mendadak ini mengejutkan mayoritas pelaku pasar derivatif yang sebelumnya memasang leverage tinggi di atas area $84.000.
Penurunan di bawah ambang $82.000 menciptakan efek domino long squeeze di pasar kontrak perpetual. Ketika harga spot tertekan, batas margin pemeliharaan para trader terlewati secara beruntun, memicu pesanan jual pasar otomatis (market sell orders) dari mesin pencocokan bursa untuk melikuidasi agunan kolateral. Fenomena ini mempercepat laju penurunan harga Bitcoin dalam hitungan jam dan menyeret mayoritas aset kripto berkapitalisasi besar lainnya ke zona merah.
Tekanan Pasar Ekuitas Asia Picu Sentimen Risk-Off Global
Koreksi tajam pasar kripto terjadi bersamaan dengan guncangan likuiditas di pasar keuangan tradisional kawasan Asia. Indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, anjlok lebih dari 4% hingga memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) selama lima menit menyusul kemerosotan tajam saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix. Kekhawatiran valuasi sektor teknologi dan penyesuaian alokasi aset institusional global memicu efek penularan (contagion) ke pasar aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Selain itu, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) yang bertahan di level tinggi turut menekan minat spekulatif investor terhadap aset digital. Lembaga riset investasi mencatat bahwa pengetatan likuiditas global membuat para pengelola dana beralih ke instrumen pasar uang berjangka pendek dan bersikap netral terhadap ekuitas. Di tengah kondisi ini, pasar kripto yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam menjadi instrumen pertama yang merasakan dampak langsung penyesuaian portofolio institusi berskala besar.
Prospek Support Psikologis dan Dinamika Likuiditas Pasar
Analis pasar derivatif menilai bahwa level $80.000 kini menjadi benteng pertahanan psikologis krusial bagi para pelaku pasar institusional. Jika Bitcoin gagal mempertahankan area support tersebut, risiko kelanjutan likuidasi bertingkat berpotensi menguji kisaran $78.000 hingga $79.500 di mana terdapat klaster likuiditas bid berikutnya. Meski demikian, penurunan open interest pasca-pembilasan likuidasi $771 juta ini dinilai sebagian pengamat mampu meredakan tingkat leverage ekstrem di pasar berjangka yang telah menumpuk selama beberapa pekan terakhir.
Pelaku pasar kini mencermati pembukaan sesi perdagangan pasar modal Amerika Serikat untuk mengukur apakah arus keluar (outflow) dari produk ETF spot Bitcoin akan kembali membesar atau justru menarik minat pembelian di harga diskon (buy on dips). Para pengamat memperingatkan agar trader ritel menahan penggunaan rasio leverage berlebih mengingat kedalaman pasar (order book depth) masih tipis pasca-guncangan likuidasi massal pagi ini.
Sumber: The Block



