Bastion Trading Ltd, pemegang saham institusional dengan kepemilikan 9,99% pada SkyAI, Inc. (Nasdaq: SKYA), secara resmi menentang rencana tender offer senilai $201 juta yang diajukan oleh manajemen perusahaan perbendaharaan Solana tersebut pada Rabu, 14 Oktober 2026. Bastion melayangkan tuntutan keras agar manajemen SkyAI segera memberikan transparansi penuh atas penjualan aset perbendaharaan Solana (SOL) yang telah menyusut hingga 70% hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Selain menuntut penundaan tender offer dengan harga awal $3,00 per saham hingga dinaikkan menjadi minimal $3,50 per saham, pemegang saham aktivis ini juga mendesak pembatasan penjualan saham oleh orang dalam (insider) serta perombakan menyeluruh pada jajaran dewan direksi petahana.
Penurunan 70% Cadangan Solana dan Misteri Pelepasan 400.000 SOL
Perselisihan antara Bastion Trading dan manajemen SkyAI dipicu oleh anjloknya cadangan kripto korporasi secara drastis dalam laporan keterbukaan dan pelacakan on-chain. Perbendaharaan Solana milik SkyAI tercatat merosot tajam dari sekitar 2 juta SOL menjadi hanya tersisa sekitar 600.000 SOL per pertengahan Oktober 2026. Penurunan cadangan sebesar 70% ini memicu kecurigaan serius di kalangan investor publik mengenai tata kelola likuiditas internal perusahaan.
Meskipun SkyAI sebelumnya telah mengumumkan rencana pelepasan 1 juta SOL ke pasar untuk mendanai program pembelian kembali saham secara defensif, Bastion menyoroti adanya selisih sekitar 400.000 SOL yang raib dari perbendaharaan tanpa rincian transaksi yang jelas. Pelepasan 1 juta SOL sebelumnya diperkirakan hanya menghasilkan dana segar sekitar $107 juta akibat likuidasi terburu-buru, yang memaksa SkyAI merealisasikan kerugian modal (capital loss) kumulatif melampaui $160 juta dibandingkan harga perolehan awal mereka. Bastion menegaskan bahwa para pemegang saham berhak mengetahui secara transparan harga eksekusi rata-rata, pihak perantara transaksi (broker), serta tujuan penggunaan dana dari 400.000 SOL yang belum dijelaskan tersebut.
Tuntutan Kenaikan Harga Tender $3,50 dan Restrukturisasi Dewan Direksi
Menanggapi proposal tender offer tunai SkyAI sebesar $3,00 per saham, Bastion secara tegas menolak untuk menyerahkan (tender) saham miliknya pada valuasi tersebut. Bastion menilai penawaran $3,00 per saham sangat mendiskon nilai intrinsik bersih perusahaan (net asset value/NAV) setelah likuidasi cadangan SOL. Oleh karena itu, Bastion menuntut agar harga penawaran dinaikkan menjadi sedikitnya $3,50 per saham demi memberikan perlakuan yang adil dan proporsional bagi seluruh pemegang saham independen.
Selain penyesuaian harga, Bastion juga menuntut pemberlakuan larangan tegas bagi jajaran direktur dan eksekutif internal SkyAI untuk berpartisipasi menjual saham mereka dalam tender offer tersebut. Tuntutan ini diperkuat oleh desakan restrukturisasi dewan direksi petahana. Pasalnya, dalam pemungutan suara rapat umum pemegang saham baru-baru ini, pemegang saham mayoritas telah memberikan suara penolakan (withhold vote) yang masif terhadap legitimasi direksi incumbent. Bastion memperingatkan akan mengambil langkah hukum perdata lanjutan apabila dewan direksi menolak untuk membuka dialog konstruktif mengenai penunjukan komisaris independen baru.
Sengketa Tata Kelola Korporasi dan Implikasi Terhadap Pasar Altcoin
Langkah tender offer tunai senilai $201 juta yang diluncurkan SkyAI sebenarnya merupakan strategi pertahanan pil racun (poison pill) untuk menangkis upaya akuisisi hostile berbasis saham penuh dari Forward Industries. Namun, strategi mengorbankan sebagian besar cadangan digital native demi mendanai pertahanan manajemen justru memicu perlawanan terbuka dari pemegang saham utama yang mengkhawatirkan erosi nilai jangka panjang.
Konflik terbuka di tubuh SkyAI menjadi preseden penting bagi model bisnis perusahaan perbendaharaan aset digital publik (pure-play digital asset treasury). Likuidasi paksa ratusan ribu token SOL oleh satu entitas korporasi tidak hanya menekan likuiditas pasar spot, tetapi juga menyoroti kerentanan tata kelola ketika manajemen memanfaatkan aset kripto cadangan tanpa mandat persetujuan pemegang saham yang kuat. Perkembangan sengketa ini diperkirakan akan menjadi ujian penting bagi pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC) dan Nasdaq terhadap emiten berbasis cadangan kripto.
Sumber: The Block



