Reli Bitcoin kembali kehilangan tenaga setelah harga tertahan di sekitar US$80.000 dan gagal mempertahankan dorongan menuju US$82.500. Tekanan jangka pendek muncul ketika ETF spot Bitcoin yang tercatat di AS membukukan arus keluar bersih sebesar US$268 juta pada Kamis, mengakhiri empat hari beruntun aliran dana positif. Di saat yang sama, sekitar US$270 juta posisi futures bullish berleveraj terlikuidasi dalam 24 jam, memperlihatkan bahwa optimisme jangka pendek mulai diguncang oleh aksi ambil untung dan kehati-hatian baru. Kombinasi dua data ini cukup untuk membuat pelaku pasar bertanya apakah momentum kenaikan hanya sedang jeda, atau justru menandai fase koreksi yang lebih dalam setelah reli beberapa pekan terakhir.
Yang membuat situasi ini menarik adalah tekanan di Bitcoin terjadi ketika pasar saham AS justru masih terlihat kuat. Indeks S&P 500 naik ke rekor tertinggi baru, sementara Russell 2000 disebut masih berada dalam jarak sekitar 2% dari puncaknya sendiri. Artinya, pelemahan Bitcoin kali ini belum tentu lahir dari kepanikan menyeluruh terhadap aset berisiko. Di sisi lain, laporan pendapatan Coinbase dan Robinhood menunjukkan partisipasi investor ritel memang sedang melambat. Coinbase mencatat penurunan pendapatan 31% dibanding kuartal pertama 2025, sementara pendapatan terkait kripto di Robinhood turun 47% pada periode yang sama. Data itu memperkuat kesan bahwa mesin reli kali ini tidak ditopang euforia ritel seperti pada siklus-siklus sebelumnya, melainkan lebih dipengaruhi institusi, derivatif, dan arus makro yang berubah cepat.
Detail posisi para trader besar juga menunjukkan pasar belum sepenuhnya percaya diri. Di Binance, trader papan atas memangkas posisi long Bitcoin ke level terendah dalam lebih dari empat pekan. Di OKX, whale dan market maker sempat menambah eksposur bullish ketika harga menembus US$80.000 pada Selasa, tetapi kembali mengurangi posisinya menjelang akhir pekan. Rasio long-to-short trader utama di OKX turun ke 0,27, jauh di bawah 1,20 yang sempat terlihat sepuluh hari sebelumnya. Meski begitu, ada faktor penyeimbang dari sisi makro. Dolar AS terus melemah terhadap mata uang utama lain dalam dua bulan terakhir, sementara beban utang pemerintah AS kian besar. Dalam lingkungan seperti itu, aset langka seperti Bitcoin biasanya kembali menarik perhatian, apalagi pasar juga berspekulasi Kevin Warsh bisa menjadi ketua Federal Reserve berikutnya dengan pandangan yang relatif ramah terhadap Bitcoin.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini mengingatkan bahwa arah Bitcoin saat ini semakin ditentukan oleh kombinasi arus ETF, likuidasi derivatif, kebijakan moneter, dan sentimen institusi global. Koreksi ringan belum otomatis berarti tren naik selesai, tetapi pasar jelas makin sensitif terhadap data arus dana dan perubahan narasi suku bunga. Jika dolar AS tetap melemah dan ekspektasi terhadap kepemimpinan The Fed yang lebih pro-aset risiko menguat, Bitcoin bisa kembali mendapatkan bahan bakar untuk menguji level yang lebih tinggi. Namun bila arus keluar ETF berlanjut dan aktivitas ritel tetap lesu, reli dapat berjalan tersendat dengan volatilitas yang lebih tajam. Untuk pelaku pasar domestik, pendekatan disiplin seperti manajemen risiko, pembagian modal bertahap, dan kewaspadaan terhadap leverage menjadi semakin penting dalam fase seperti ini.
Kesimpulannya, arus keluar ETF spot sebesar US$268 juta dan likuidasi long US$270 juta memang menahan laju Bitcoin dalam jangka pendek, tetapi belum cukup menjadi bukti final bahwa pasar telah masuk ke tren bearish yang berkepanjangan. Narasi besarnya masih bergantung pada kekuatan dolar AS, prospek suku bunga, dan seberapa cepat permintaan institusional kembali menyerap tekanan jual yang muncul. Dalam beberapa hari ke depan, pasar akan memantau apakah level sekitar US$80.000 mampu bertahan sebagai pijakan baru atau justru berubah menjadi titik rapuh. Sumber: https://cointelegraph.com/markets/bitcoin-stalls-as-btc-etf-outflows-hit-268m-will-new-fed-chair-restore-the-rally
