Produk dana terindeks berbasis spot Bitcoin di Amerika Serikat mengalami tekanan likuidasi hebat setelah mencatatkan arus keluar bersih (outflow) mencapai $635,6 juta dalam perdagangan Kamis (22/10/2026). Penjualan masif investor institusional ini menghapus hampir 60 persen dari akumulasi arus masuk senilai $1,07 miliar yang sempat dibukukan selama tiga sesi perdagangan sebelumnya. Pembalikan modal secara tiba-tiba ini sekaligus menggugurkan tren pemulihan bulanan dan mengembalikan kinerja agregat Oktober ke zona defisit bersih sebesar $176 juta. Arus keluar harian ini menjadi rekor penarikan modal terbesar sepanjang bulan Oktober, melampaui rekor pelepasan aset sebelumnya pada 7 Oktober yang sempat menyentuh angka $484,9 juta.
Gelombang Penarikan Menjalar ke ETF Ethereum dan Solana
Dampak pelepasan portofolio aset digital tidak hanya terkonsentrasi pada Bitcoin, melainkan merambat ke seluruh instrumen ETF kripto terdaftar lainnya. ETF spot Ethereum mencatatkan arus keluar bersih sebesar $110,6 juta hanya sehari setelah sempat memutus rekor penarikan modal lima hari beruntun. Kerugian harian tersebut memperlebar akumulasi penarikan modal dari dana kelolaan Ethereum menjadi sekitar $1,18 miliar sepanjang bulan berjalan.
Kondisi serupa dialami oleh ETF spot Solana yang kehilangan dana sebesar $8,9 juta dalam sesi penutupan bursa Wall Street kemarin. Tambahan penarikan ini memperparah total arus keluar bulanan Solana menjadi sekitar $68 juta, di mana instrumen tersebut hanya mampu membukukan arus masuk positif selama dua hari perdagangan di sepanjang Oktober. Secara kumulatif, total arus masuk bersih ETF spot Bitcoin sejak peluncuran perdana pada Januari 2024 terkoreksi ke level $57,8 miliar, dengan total aset bersih kelolaan (AUM) berada di kisaran $100,2 miliar. Sementara itu, total arus masuk ETF Ethereum sejak Juli 2024 bertahan di angka $12,7 miliar.
Korelasi Makroekonomi dan Koreksi Indeks Wall Street
Aksi jual besar-besaran pada produk investasi kripto terjadi bersamaan dengan penurunan sentimen risiko di pasar keuangan konvensional global. Tekanan geopolitik mendorong lonjakan harga minyak mentah melampaui level $111 per barel, memicu kekhawatiran inflasi baru yang menekan saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) serta menyeret indeks S&P 500 ke zona merah. Pelaku pasar institusional memilih bersikap defensif menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 28 Oktober 2026 mendatang.
Meskipun ekspektasi pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan di level stabil tanpa kenaikan tambahan, ketidakpastian likuiditas jangka pendek mendorong manajer investasi merestrukturisasi eksposur risiko mereka. Pelepasan aset ETF kripto mencerminkan pergeseran taktis portofolio institusional yang memanfaatkan instrumen likuid teregulasi untuk mengamankan kas sebelum rilis pernyataan resmi Gubernur The Fed.
Resiliensi Harga Spot dan Prospek Pasar Menjelang Akhir Tahun
Menariknya, pelepasan modal bernilai ratusan juta dolar dari instrumen ETF tidak memicu kepanikan langsung pada pasar spot kripto. Harga Bitcoin relatif bertahan stabil di kisaran $81.460, bergerak mendatar dalam rentang 24 jam terakhir dengan koreksi tipis 0,4 persen dalam sepekan. Hal serupa terjadi pada Ethereum yang hanya melemah 0,2 persen ke level $2.400, sementara Solana tergelincir 0,3 persen mendekati angka $104 per token.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global masih kokoh di angka $2,85 triliun, kendati volume perdagangan harian terpangkas 20 persen menjadi $67,1 miliar akibat pelaku pasar yang beralih ke mode wait-and-see. Data dari platform pasar prediksi Myriad menunjukkan para pedagang derivatif memangkas proyeksi lonjakan harga di atas $87.500 sebelum akhir Oktober dari 20 persen menjadi 17 persen. Kendati demikian, konsolidasi harga spot di tengah gelombang arus keluar masif dinilai para analis sebagai indikasi kuatnya penyerapan likuiditas oleh pembeli jangka panjang di pasar non-bursa.
Sumber: Decrypt



